Bupati Gus Irawan Paparkan Program Unggulan Tapsel dalam Verifikasi I-SIM 2026, Dalihan Natolu Untuk Akselerasi Pencapaian SDGs 2030

oleh

 

Rimbunnews.com – Tapanuli Selatan –
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, (Pemkab Tapsel) mengikuti tahapan verifikasi dan peninjauan lapangan program unggulan daerah dalam ajang Indonesia’s SDGs Action Awards (I-SIM) 2026, Kamis (5/11/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Bupati, Kantor Bupati Tapanuli Selatan, Sipirok, tersebut dipimpin langsung Bupati Tapanuli Selatan H. Gus Irawan Pasaribu, S.E., Ak., M.M., C.A., yang dihadiri Wakil Bupati Tapanuli Selatan H. Jafar Syahbuddin Ritonga, Sekda Tapsel H. Sofyan Adil Siregar, Asisten, Staf Ahli Bupati, sejumlah Pimpinan OPD Tapsel bersama tim verifikator dan sejumlah pemangku kepentingan terkait.

Dalam kesempatan itu, Pemkab Tapanuli Selatan mengusung program unggulan bertajuk “Sinergi Tapsel Bangkit: Dalihan Na Tolu Hijau untuk Akselerasi Pencapaian SDGs 2030.” Program ini menitikberatkan pada penguatan nilai-nilai kearifan lokal Dalihan Na Tolu sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan pelestarian lingkungan, mitigasi bencana, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta kolaborasi multipihak.

Bupati Gus Irawan dalam paparannya menyampaikan bahwa keikutsertaan Tapanuli Selatan dalam tahapan verifikasi tersebut merupakan kesempatan penting untuk menunjukkan berbagai inovasi dan langkah konkret pemerintah daerah dalam menjawab tantangan pembangunan, khususnya setelah bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Tapanuli Selatan pada 25 November 2025.

Ia menjelaskan, bencana tersebut memberikan dampak besar terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat, termasuk pertanian yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah dengan kontribusi sekitar 45 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Dampak bencana turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi Tapanuli Selatan yang sebelumnya berada di kisaran 5 persen, kemudian mengalami penurunan hingga 2,49 persen pada triwulan IV 2025. Namun, melalui berbagai langkah pemulihan dan intervensi program pembangunan, pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan perbaikan menjadi 3,49 persen pada triwulan I 2026 dan meningkat menjadi sekitar 4,57 persen pada periode berikutnya.

Baca juga  Hari Bhayangkara ke-80, Presiden Prabowo Tekankan Transformasi Polri Hadapi Tantangan Global

“Dalam kondisi keterbatasan fiskal sekalipun, kita tidak boleh berhenti. Kita harus terus bergerak, membangun kolaborasi dan mencari terobosan agar masyarakat bisa bangkit, ekonomi pulih, dan pembangunan tetap berjalan,” tegas Gus Irawan.

Lebih lanjut, Bupati menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama program unggulan Tapanuli Selatan adalah menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal Dalihan Na Tolu, yang tidak hanya dimaknai sebagai sistem adat, tetapi juga sebagai modal sosial dalam membangun semangat gotong royong, kebersamaan, keselarasan, dan tanggung jawab bersama.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut memiliki relevansi kuat dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam. Kearifan lokal seperti Marsialapari atau gotong royong dalam kegiatan pertanian, pengaturan sumber daya air secara adat, serta tradisi musyawarah merupakan warisan sosial yang perlu diperkuat dan dikembangkan menjadi bagian dari solusi pembangunan masa kini.

“Nilai-nilai yang diwariskan para leluhur kita sesungguhnya luar biasa. Ada semangat gotong royong, kesepakatan, dan pembagian peran yang jelas. Inilah kekuatan yang harus kita hidupkan kembali agar pembangunan memiliki akar yang kuat di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Dalam konteks pelestarian lingkungan, Gus Irawan juga menyoroti pentingnya kawasan hutan Batang Toru yang memiliki fungsi strategis sebagai kawasan konservasi, daerah tangkapan air, serta habitat satwa langka, termasuk orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis).

Kawasan tersebut juga memiliki posisi penting karena berada di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai Batang Toru dan menjadi bagian dari koridor ekosistem yang menghubungkan kawasan hutan di wilayah barat dan timur. Karena itu, pelestarian hutan dinilai bukan semata-mata persoalan lingkungan, melainkan juga upaya menjaga sumber kehidupan, mengurangi risiko bencana, dan melindungi keberlanjutan ekonomi masyarakat.

Baca juga  Tunggak Pajak Rp750 Juta, KPP Medan Timur Sita Mobil Wajib Pajak

Bupati turut mendorong pengembangan pendekatan berbasis data dan teknologi, termasuk pemanfaatan pemetaan digital, citra satelit, serta penghitungan potensi cadangan karbon. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat perencanaan konservasi, membuka peluang ekonomi hijau, dan mendukung komitmen Indonesia dalam pengendalian emisi karbon.

Di sisi lain, program Dalihan Na Tolu Hijau juga diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat melalui pengembangan komoditas unggulan daerah, seperti kopi, kakao, dan kelapa. Pengembangan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi bahan mentah, tetapi juga mencakup peningkatan kualitas, pengolahan, penguatan merek, akses pasar, hingga terbukanya peluang ekspor.

Gus Irawan menegaskan bahwa pengembangan ekonomi masyarakat harus berjalan seiring dengan perlindungan kawasan hutan dan habitat satwa. Dengan demikian, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan.

Selain itu, penguatan ekonomi lokal juga menjadi langkah strategis dalam mengantisipasi perubahan kebutuhan tenaga kerja seiring perkembangan operasional industri dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di kawasan Batang Toru/Marancar. Pemerintah daerah perlu mempersiapkan alternatif mata pencaharian dan meningkatkan kapasitas masyarakat agar mampu mengambil peluang ekonomi baru secara berkelanjutan.

Sementara itu, perwakilan tim dari Bappenas, Dr. Muhrina Sari Hsb., S.Hut., M.Si., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Kabupaten Tapanuli Selatan masuk dalam lima besar kabupaten pada ajang I-SIM 2026.

Ia menjelaskan bahwa tahapan verifikasi lapangan merupakan bagian penting dari proses penilaian untuk memastikan kesesuaian antara data yang disampaikan dengan kondisi nyata pelaksanaan program di daerah. Verifikasi tersebut juga bertujuan menghindari praktik greenwashing, yakni klaim keberhasilan pembangunan berkelanjutan yang tidak didukung bukti dan implementasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca juga  Kapolsek Kutalimbaru AKP Idem Sitepu, S.H. Pimpin Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-97 Tahun 2025

Menurutnya, masuknya Tapanuli Selatan dalam lima besar tingkat kabupaten menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki program yang dinilai relevan dan potensial dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Dalam sesi diskusi dan pendalaman program, tim verifikator juga memberikan sejumlah masukan strategis agar program unggulan Tapanuli Selatan semakin kuat, terukur, dan memiliki dampak jangka panjang. Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi integrasi konservasi hutan dan mitigasi bencana, penghitungan potensi cadangan karbon, pengembangan komoditas pertanian bebas deforestasi, digitalisasi data, penguatan kearifan lokal, serta penyusunan peta jalan pembangunan berkelanjutan hingga 2030.

Tim juga mendorong agar berbagai capaian dan intervensi yang telah dilakukan pemerintah daerah bersama organisasi non pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat ditampilkan secara konkret melalui data, dokumentasi, serta indikator keberhasilan yang dapat diverifikasi.

Melalui tahapan verifikasi dan peninjauan lapangan ini, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan berharap program Sinergi Tapsel Bangkit: Dalihan Na Tolu Hijau dapat menjadi model pembangunan daerah yang mengintegrasikan kearifan lokal, ketangguhan menghadapi bencana, perlindungan ekosistem, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Komitmen tersebut sekaligus menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan di Tapanuli Selatan tidak hanya berorientasi pada capaian jangka pendek, tetapi juga pada terjaganya lingkungan, kuatnya ekonomi masyarakat, serta keberlanjutan kehidupan generasi mendatang menuju pencapaian SDGs 2030. (Nurdin Nasution)