Rimbunnews.com – Medan – Ketua Tridharma, Budi Malem Smt bersama Bendahara Tridharma Komda Sumut , Setiawati Isah hadiri kegiatan Pho Tho di Cetiya Bao Gong Keadilan Semesta Jalan Manggis Indah No. 58 Titi Kuning Medan Johor Kita Medan, 01 September 2026.
Kehadiran Ketua Tridharma Komda Sumut bersama bendahara disambut baik oleh pengurus Cetiya Bao Gong, karena kehadiran tim dari Tridharma tersebut merupakan penghargaan besar bagi pengurus Cetiya Bao Gong untuk perkembangan rumah ibadah tersebut ke depan, kata. Bie Luan.
Pengelola Cetiya Bao Gong, Bie Luan menyampaikan, acara Pho Tho atau Sembahyang Rebutan / Cioko merupakan ritual persembahan masyarakat Tionghoa untuk mendoakan arwah leluhur serta roh-roh yang tidak memiliki keluarga, kata Bie Luan didampingi Ketua Tridharma Komda Sumut, Budi Malem.
Lebih lanjut Bie Luan mengatakan, sembahyang ini dilakukan pada bulan ketujuh penanggalan imlek atau biasanya mencapai puncak pada hari ke-15.
Karena berdasarkan kepercayaan, pada bulan ini gerbang akhirat terbuka agar para arwah dapat berkunjung ke dunia manusia, jelas Bie Luan.
Tujuan dari sembahyang ini untuk mengirimkan doa agar arwah leluhur atau roh terlantar mendapat ketenangan dan jalan menuju alam baka.
Biasanya sembahyang ini dengan menyiapkan meja berisi makanan, buah, hingga replika pakaian dan harta benda dari kertas yang kemudian dibakar sebagai simbol bekal bagi para arwah.
Di beberapa kelenteng atau vihara, ritual ini juga diisi dengan pembagian beras atau paket sembako kepada warga kurang mampu sebagai wujud amal kebajikan.
Budi Malem Smt sangat mengapresiasi kegiatan Pho Tho yang diselenggarakan Cetiya Bao Gong, karena kegiatan ini merupakan salah satu untuk melestarikan budaya Tionghoa, dimana kegiatan ini adalah ritual persembahan masyarakat Tionghoa untuk mendoakan arwah leluhur serta roh-roh yang tidak memiliki keluarga.
Budi berharap anggota PTITD-SI 67 dan MARTRISIA turut melestarikan budaya Tionghoa agar tidak punah kedepannya, kata Budi .
Kegiatan Pho Tho ini juga dilaksanakan penyaluran sembako kepada tiga puluh orang masyarakat kurang mampu dan diakhiri dengan makan bersama. (Mabhirink Gutul)


