Rimbunnews.com – Medan – Hari Terakhir PhonTho, Ketua Tridharma Komda Sumut, Budi Malem Smt Hadir di Vihara Ksitigarbha Maha Siddhi di Jalan Persatuan Raya Serbaguna Ujung no. 83 Desa Helvetia Kecamatan Labuhan Deli, Kamis , 10 September 2026 .
Kehadiran Ketua Tridharma Komda Sumut bersama tim disambut hangat oleh pengelola Vihara Ksitigarbha Maha Siddhi, Irianto.
Irianto mengatakan , pada hari yang baik ini marilah kita beramai ramai datang berdoa memohon kepada TYME agar negara kita aman sentosa , serta kita diberikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah .
Irianto juga mengatakan, kehadiran Ketua Tridharma Komda Sumut merupakan penghargaan besar bagi pengurus Vihara Ksitigarbha Maha Siddhi untuk perkembangan rumah ibadah tersebut ke depan, kata Irianto .
Pengelola Vihara Ksitigarbha Maha Siddhi , Irianto menyampaikan, acara Pho Tho atau Sembahyang Rebutan / Cioko merupakan ritual persembahan masyarakat Tionghoa untuk mendoakan arwah leluhur serta roh-roh yang tidak memiliki keluarga, kata Irianto didampingi Ketua Tridharma Komda Sumut, Budi Malem.
Lebih lanjut Irianto mengatakan, sembahyang ini dilakukan pada bulan ketujuh penanggalan imlek atau biasanya mencapai puncak pada hari ke-15. Karena berdasarkan kepercayaan, pada bulan ini gerbang akhirat terbuka agar para arwah dapat berkunjung ke dunia manusia, jelas Irianto.
Tujuan dari sembahyang ini untuk mengirimkan doa agar arwah leluhur atau roh terlantar mendapat ketenangan dan jalan menuju alam baka.
Biasanya sembahyang ini dengan menyiapkan meja berisi makanan, buah, hingga replika pakaian dan harta benda dari kertas yang kemudian dibakar sebagai simbol bekal bagi para arwah.
Di beberapa kelenteng atau vihara, ritual ini juga diisi dengan pembagian beras atau paket sembako kepada warga kurang mampu sebagai wujud amal kebajikan.
Budi Malem Smt sangat mengapresiasi kegiatan Pho Tho yang diselenggarakan Vihara Ksitigarbha Maha Siddhi, karena kegiatan ini merupakan salah satu untuk melestarikan budaya Tionghoa, dimana kegiatan ini adalah ritual persembahan masyarakat Tionghoa untuk mendoakan arwah leluhur serta roh-roh yang tidak memiliki keluarga.
Budi berharap anggota PTITD-SI 67 dan MARTRISIA turut melestarikan budaya Tionghoa agar tidak punah kedepannya, kata Budi .
Budi juga menyampaikan, bahwa Tridharma adalah tempat teloransi, harmonisasi dan kerukunan antar umat, jadi kita sebagai anggota Tridharma dan Martrisia harus menjaga kerukunan beragama antar sesama tanpa memandang ras, suku dan agama.
Perayaan ulang tahun dewa ini diharapkan dapat mempererat silaturahmi antar umat dan memupuk semangat berbuat kebaikan dalam masyarakat jelas Budi Malem mengakhiri. (Mabhirink Gutul)


