Rimbunnews.com – Medan – Pembimas Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, Sukasdi, S.E., M.A, bersama Ketua Permabudhi Sumut Wong Chin Sen dan Ketua PTITD Sumut, Budi Malem Hadiri Sembahyang Poh To dan Berbagi kasih Kepada Masyaraka Sekitar di Vihara GEK Ching Thao Thua di Jalan Pematang Johor .kec Percut SEI tuan Kab Deli Serdang.
Kunjungan tersebut disambut baik oleh pengelola Vihara GEK Ching Thao Thua Henfky Safendra yang dipanggil sehari-hari nya dengan Sai Kong Lim.
Sai Kong Lim menjelaskan makna di balik tradisi Sembahyang Rebutan atau yang dikenal juga didunia internasional dikenal sebagai Festival Hantu Kelaparan (Cioko). Menurut kepercayaan Tionghoa, pada bulan ke-7 dalam penanggalan lunar, pintu alam baka terbuka dan arwah-arwah yang tidak memiliki keluarga dapat kembali ke dunia manusia.

“Pada bulan ke-7, masyarakat Tionghoa merasa harus lebih berhati-hati. Mereka biasanya menghindari kegiatan besar seperti memulai usaha baru, menikah, atau bepergian jauh,” jelas Sai Kong Lim.
Untuk menghormati para arwah, masyarakat Tionghoa menggelar ritual sembahyang rebutan. Awalnya, tradisi ini berasal dari masyarakat agraris sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan dewa agar hasil panen melimpah, tambah Sai Kong Lim
Kotak baju dan lipatan kertas uang dibakar sebagai persembahan untuk orang yang telah meninggal terlebih dahulu, tuturnya
Selain melaksanakan sembahyang tersebut pada kesempatan itu juga Vihara tersebut menyalurkan 277 karung beras kepada masyarakat di wilayah Vihara yang dipandu langsung kepala lingkungan setempat
Penyaluran baksos kepada masyarakat yang kurang mampu di sekitar Vihara tersebut merupakan kegiatan tahun ke dua setelah Klenteng atau TITD GEK Ceng Tao Thua berusia lima tahun , katanya. ( Mabhirink Gutul)


