Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg Picu Kenaikan Harga Di Kecamatan Angkola Sangkunur

oleh

Rimbunnews.com – Tapanuli Selatan – Krisis pasokan tabung gas Elpiji, khususnya ukuran 3 kilogram, kian meluas dan mencekik aktivitas ekonomi warga dalam beberapa hari terakhir.

Pantauan di lapangan Pekan Simataniari pada Rabu, (17/06) menunjukkan antrean panjang warga yang menenteng tabung kosong masih terjadi di sejumlah pangkalan.

Sayangnya, banyak dari mereka harus pulang dengan tangan hampa karena stok di berbagai titik agen dan pengecer dilaporkan kosong melongpong.

Kelangkaan yang sudah berlangsung selama hampir sepekan ini mulai melumpuhkan dapur rumah tangga dan memukul sektor usaha mikro.

Warga kini harus berputar-putar keliling kedesa desa di Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan demi mendapatkan satu tabung gas elpiji, itu pun dengan harga yang sudah melonjak drastis di tingkat eceran.

Baca juga  Bhabinkamtibmas Kelurahan Mangga Laksanakan Kegiatan Sambang ke Pos Kamling

Bagi ibu rumah tangga, situasi ini menjadi momok yang sangat menyulitkan untuk memikirkan memasak dirumah.

Tanpa adanya alternatif bahan bakar yang praktis, banyak keluarga yang terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli makanan jadi.

“Sudah mencapai 1 bulan ini saya keliling cari gas melon (3 kg) sampai ke kecamatan sebelah, semuanya kosong. Di tingkat pengecer kalaupun ada harganya bisa sampai Rp 30.000 sampai 35.000, padahal biasanya cuma Rp25.000. Kalau begini terus, uang belanja habis cuma buat beli gas, atau terpaksa beli lauk matang di luar yang jatuhnya jauh lebih boros. Tolonglah Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan segera turun tangan dimana kendala Gas Elpiji ini bisa langkah, kami mau masak buat anak-anak susah sekali.” Ujar Ida selaku ibu rumah tangga.

Baca juga  Bingkisan Lebaran Jadi Penyemangat Personel, Polres Samosir Gelar Apel Penyerahan di Tengah Operasi Ketupat 2026

Dampak yang tidak kalah hebatnya dirasakan oleh para pedagang kuliner kaki lima terutama di kecamatan angkola sangkunur.

Gas Elpiji adalah urat nadi bisnis mereka. Kelangkaan ini membuat mereka dihadapkan pada pilihan sulit: tidak berjualan atau membeli gas dengan harga tengkulak yang memotong habis keuntungan mereka.

“Usaha gorengan dan makanan bakso dan lontong dan makanan lainnya, saya ini bergantung sekali sama gas 3 kg. Sehari saya butuh dua tabung. Kalau gas kosong begini, saya terpaksa libur jualan. Kalau libur, dari mana saya dapat uang buat setoran dan makan keluarga? Mau pakai kayu bakar atau minyak tanah sudah tidak mungkin di perkotaan seperti ini. Kami ini rakyat kecil, kalau modal habis karena gas langka, kami bisa gulung tikar.” Ujar Edy selaku pedagang Usaha Mikro.

Baca juga  Antisipasi Bencana, Polres Tanah Karo Gelar Rapat Koordinasi dan Pelatihan Pembentukan Tim SAR 2024

Hingga berita ini diturunkan, tanda-tanda bertuliskan “Gas Habis” atau “Stok Kosong” masih terpampang jelas di depan toko-toko kelontong dan pangkalan resmi.

Warga berharap pihak berwenang, termasuk Pertamina dan pemerintah daerah setempat, segera menggelar operasi pasar murah demi mengurai kelangkaan yang kian meresahkan ini. Jika dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan hal ini akan memicu efek domino terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya. (Nurdin Nasution)