Rimbunnews.com, Tanah Karo – Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang bernilai ekonomis tinggi dan banyak dibudidayakan di Kabupaten Karo. Kabupaten Karo menjadi produsen kentang terbesar di Provinsi Sumatera Utara. Data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara tahun 2023, menunjukkan Kabupaten Karo menyumbang 60% produksi kentang di Sumatera Utara dengan produksi kentang di Kabupaten Karo mencapai 84.491 ton.
Untuk mendukung pengembangan budidaya kentang di Kabupaten Karo, pada tahun 2020 Dinas Pertanian mengembangkan inovasi Budidaya Kentang Bertingkat dengan tujuan menyediakan ketersediaan benih kentang yang cukup baik dari segi jumlah, mutu, lokasi dan harga, Namun dalam perkembangan budidaya kentang bertingkat di lapangan, terdapat serangan hama penyakit tanaman (HPT) yang menyebabkan penurunan produksi.
Salah satu HPT pada tanaman kentang dengan intensitas serangan yang cukup tinggi adalah penyakit layu fusarium. Penyakit layu fusarium disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum .Patogen ditularkan melalui udara dan air. Gejala serangan ditandai tanaman menjadi layu mulai dari daun bagian bawah. Anak tulang daun menguning. Jaringan batang dan akar berwarna coklat.
Selain itu, salah satu biaya produksi dalam budidaya kentang yang cukup tinggi adalah pupuk. Saat ini harga pupuk anorganik cukup mahal yang menyebabkan semakin tingginya biaya produksi dalam budidaya kentang. Selain itu, penggunaan pupuk anorganik yang intensif juga berdampak terhadap kerusakan lingkungan, kesuburan lahan semakin menurun dan mengalami degradasi/ rusak ditunjukkan semakin menurunnya kandungan bahan organik pada lahan pertanian dan pengerasan tanah.
Penggunaan pupuk organik yang ditambah dengan pengayaan jamur Trichoderma.sp menjadi solusi dalam mengatasi mahalnya pupuk anorganik, kerusakan lahan pertanian, dan dapat mengendalikan penyakit layu fusarium pada kentang. Penggunaan pupuk organik yang yang ditambah dengan pengayaan jamur Trichoderma.sp menjadi ide inovasi Dinas Pertanian dan diberi nama Orgatric (Organik Trichoderma)
Pupuk organik yang digunakan dapat berasal dari kotoran hewan dan sisa-sisa pertanaman yang sudah mengalami fermentasi. Trichoderma yang sudah disiapkan kemudian dicampur ke dalam pupuk organik dan diinkubasi selama 2 hari. Perbandingan antara pupuk organik dan biakan Trichoderma sp. adalah 60:1, yang berarti dalam 60 kg pupuk organik ditambahkan 1 kg biakan jamur Trichoderma sp.
Proses penggunaan Orgatric dilakukan dengan 2 cara yaitu penaburan langsung sebagai pupuk dasar dan pengocoran. Untuk penaburan langsung, penggunaan orgatric pada tanaman
(anta)


