Rimbunnews.com, Depok – Para pedagang asongan maupun K5 yang selama ini mangkal di beberapa sekolah khususnya sekolah dasar di kota Depok dalam beberapa bulan ini mulai mengalami kegelisahan seputar rejeki yang mereka dapatkan . Keberadaan kantin sekolah , dalam tujuh atau enam bulan terakhir ini yang letaknya berada di dalam kompleks sekolah benar – benar mempengaruhi pendapatan para pedagang itu . Menurut salah seorang pedagang K5 yang bernama Iwan , omzetnya dalam enam atau lima bulan terakhir ini benar – benar mengalami penurunann yang drastis . Jika biasanya dia mampu meraup penjualan sekitar Rp.200.000,- atau Rp.250.000,- per harinya namun sekarang penjualannya mengalami penurunan yang sangat signifikan . ” Sekarang , boro – boro setengahnya . Mampu meraih penjualan Rp.80.000,- saja sudah syukur ” . Ujar Iwan . -Menurut pedagang macaroni yang berasal dari Cianjur itu , jika selama ini dia mampu meraih keuntungan bersih sebesar Rp.120.000,- dari total penjualannya yang biasanya mencapai Rp.250.000,- . Saat ini dia hanya mampu meraih laba bersih sekitar Rp.30.000,- bahkan kurang dari itu . ” Kalau keuntngan yang saya dapatkan hanya Rp.30.000,- sehari , sudah pasti itu tidak cukup , mas ” . Ucapnya dengan nada gundah . ” Untuk makan saya saja sehari – hari sudah menghabiskan Rp.30.000,- , belum lagi saya harus mikirin uang kontrak bulanan dan kiriman kepada anak dan istri saya di Cianjur ” . Ujarnya , menambahkan . Pedagang macaroni yang biasanya mangkal di depan SD Negeri 03 Pancoran mas , Depok ini sangat mengharapkan adanya kebijakan dari pihak sekolah agar pihak sekolah meninjau kembali kebijakan pembukaan kantin di dalam kompleks sekolah tersebut . Salah seorang pedagang K5 Lainny yang tidak bersedia disebutkan namanya dan mangkal di depan SD Negeri 03 Depok itu sangat menyayangkan kebijakan pihak sekolah yang membuka kantin di dalam kompleks sekolah tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkannya . ” Umumnya para pedagang yang mangkal di depan sekolah ini dan sekolah – sekolah lainnya adalah masyarakat ekonomi lemah yang penghidupan keluarganya bergantung dengan keberadaan siswa – siswa sekolah itu , mas . Kalau sudah begini , kami hanya bisa pasrah ” . Ungkap pedagang K5 itu . Wanita yang punya 5 orang anak dan semuanya masih bersekolah itu juga mengatakan . ” Kalau alasan pihak sekolah membuka kantin di dalam sekolah berkaitan dengan makanan sehat , kami bersedia meningkatkan kwalitas produk makanan kami dari segi kesehatan ” . Ketika kontributor Rimbun news menanyakan , apakah setelah adanya kantin di dalam kompleks sekolah itu para siswa dilarang membeli jajanan diluar sekolah oleh para guru – guru ? . Pedagang wanita yang sehari – hari berjualan es teh itu mengatakan bahwa pihak sekolah katanya memang tidak melarang . ” Tapi kami dapat kabar , banyak sekali para guru – guru yang melarang murid – muridnya untuk membeli jajanan diluar sekolah ” . Lebih jauh wanita pedagang K5 itu juga menambahkan ” Guru – guru itu melarang murid – muridnya membeli jajanan diluar karena mereka ( para guru ) banyak yang nyambi berjualan di kantin sekolah , mas . Makanan sehat itu cuma jadi alasan ” . Ketika kontributor Rimbun news menanyakan apakah sudah pernah mengadakan dialog dengan pihak sekolah , pedagang wanita itu mengatakan ” Hal itu percuma saja ”
Wanita itu juga menambahkan . ” Setiap kita tanyakan hal itu kepada pihak sekolah , semuanya serentak mengatakan tidak pernah melarang tapi kenyataannya tidak seperti itu ” . Sementara itu , keresahan yang sama juga disampaikan oleh para pedagang K5 yang biasanya mangkal di depan sekolah.
Sementara itu , keresahan yang sama juga disampaikan oleh para pedagang kecil atau K5 lainnya yang biasanya mangkal di SD – SD Negeri di seputaran kota Depok . Sebagai rakyat kecil , para pedagang itu hanya mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah tentang nasib mereka . ” Kami hanya rakyat kecil yang bodoh , mas . Kami tidak tahu kemana harus menyampaikan keluhan kami ” . Ujar salah seorang pedagang K5 yang biasanya mangkal di depan SD Negeri Anyelir kota Depok .
Mudah – mudahan walikota Depok bahkan gubernur Jawa barat , Deddy Mulyadi mendengarkan keluhan kami dan mencari solusi untuk perbaikan nasib kami ” . Ucap pedagang itu , menambahkan (Barus)


